Kebudayaan, Sejarah dan Kehidupan Sosial di
Sulawesi Selatan. Kata- kata tersebut dipilih untuk memberikan sedikit gambaran
tentang isi buku. Tidak main- main,
buku ini berisi beberapa makalah yang telah dibawakan dalam seminar
internasional di Arsip Nasional Indonesia cabang Sulawesi Selatan 12 tahun
silam tepatnya tanggal 16 dan 17 September. Yang sedikit mengherankan, ke 13
makalah tersebut tak satupun ditulis olehbudayawan ataupun ahli sejarah Indonesia.
Sebelumnya dua konfrensi tentang Sulawesi
Selatan telah dilakukan di Melbourn, Australia dan Leiden, Belanda. Keduanya tentu saja
merupakan wujud dari perhatian yang besar terhadap Sulawesi Selatan.
Salah satu makalah membahas naskah ataupun
manuskrip lokal, yang merupakan sumber informasi mengenaik apa- apa yang
terjadi di masa lalu. Dari catatan milik Arsip Nasional Republik Indonesia
cabang Sulawesi Selatan, terdapat 4000 Naskah yang diabadikan pada media
mikrofilm.
Mengapa dalam bentuk mikrofilm? Karena
bukanlah hal mudah untuk mendapatkan naskah asli yang beberapa diantaranya
tertulis di atas daun lontar. Tidak sedikit pemilik dari naskah – naskah
tersebut yang enggan bahkan menolak dengan keras menunjukkan koleksi miliknya
hanya karena naskah tersebut dianggap sebagai benda keramat ataupun jimat yang
telah diwariskan secara turun temurun. Yang ironis, tidak sedikit yang meminta
imbalan dalam jumlah besar sebelum mengijinkan tim pengumpul naskah mengambil
foto naskah. Hanya sedikit diantaranya yang akhirnya menyerahkan koleksi mereka
karena sadar bahwa koleksi tersebut lebih aman tersimpan di Arsip.
Sangat disayangkan, kondisi dari kebanyakan
naskah yang tidak terawat dan akhirnya rusak dimakan rayap. Teks yang memudar
tidak hanya menyulitkan. Selain itu banyak halaman yang lepas dari jilidan
buku, bahkan banyak kata dan frase yang menghilang. Namun semua itu ternyata
tak menyurutkan semangat para sejarahwan untuk mengeksplorasi lebih dalam.
Naskah – naskah yang di temukan ternyata
ditulis dalam beragam bahasa. Dari Makassar, Bugis, Arab sampai Romawi. Salah
satu bentuk naskah dalam bahasa arab dapat dilihat di salah satu sudut ruangan
Museum Kota Makassar.
Dari hasil penerjemahan, tedapat sebuah
catatan harian Kapitan Melayu. Jangan berharap akan mendapatkan masalah
pribadi, karena catatan harian initernyata berisi kejadian-kejadian sosial, seperti penjanjian publik,
kelahiran, kematian, perkawinan, perang ataupun perjalanan – pejalanan orang –
orang terkemuka. Di dalamnya sama sekali tidak terdapat komentar pribadi.
Berpindah ke makalah lain yang tidak kalah
menarik tentu saja yang membahas mengenai Sejarah Konstruksi dan Benteng
–Benteng Pertahanan Makassar. Alasannya sederhana, karena fakta mengenai hal
ini baru – baru saja saya dapatkan. Terdapat sedikit perbedaan. Di buku ini
hanya menyebutkan 8 benteng yang mengikuti garis pantai sepanjam 10 km. Padahal
yang saya dapatkan pada saat mengunjngi museum disebutkan terdapat lebih dari
10 benteng.
Miris rasanya mengetahui bagaimana saat VOC
yang mengepung Makassar di tahun 1667 sehingga membuat kota menjadi lumpuh. Walau tidak mampu
merebutnya secara penuh. Sehingga dibuatlah perjanjian Bungaya yang membuat
seluruh benteng – benteng tersebut hancur kecuali Benteng Ujung Pandang yang
berubah namanya menjadi FortRotterdam dan Benteng
Somba Opu.
Pembahasan mengenai benteng – benteng ini
tidak hanya berkisar tentang sejarahnya saja. Struktur benteng pun dibahas
sangat mendalam. Bahkan segi filosofis sebuah benteng pun tak lupa dibahas.
Kedua belas makalah lain pun tak kalah
menarik untuk di simak. Pembahasan mengenai budaya orang Bugis, kronologi Raja
– Raja Luwu yang merupakan memerintah kerajaan tertua di sulawesi selatan ataupun
sampai pada kehidupan masyarakat di Taka Bonerate. Membaca setiap makalah ini
membuat saya serasa berkunjung ke sebuah museum. Walau tak jarang saya sedikit
dibuat sedikit kewalahan karena pembahasaan yang sangat mendetail. Namun tentu
saja untuk orang – orang yang bergerak di bidang ini ataupun orang – orang yang
ingin memahami beberapa budaya, sejarah dan kehidupan sosial di Sulawesi
Selatan buku ini dapat menjadi referensi.