profmustamar.com
Tapak – Tapak Waktu PDF Print E-mail
Written by Ally   
Thursday, 28 August 2008

 tapak_tapak_waktu.jpg

 

Penyunting: Kathryn Robinson dan Mukhlis Paeni

Penerbit: Inninawa

Cetakan: I, Juli 2005

 

Kebudayaan, Sejarah dan Kehidupan Sosial di Sulawesi Selatan. Kata- kata tersebut dipilih untuk memberikan sedikit gambaran tentang isi buku. Tidak main  - main, buku ini berisi beberapa makalah yang telah dibawakan dalam seminar internasional di Arsip Nasional Indonesia cabang Sulawesi Selatan 12 tahun silam tepatnya tanggal 16 dan 17 September. Yang sedikit mengherankan, ke 13 makalah tersebut tak satupun ditulis oleh  budayawan ataupun ahli sejarah Indonesia.

Sebelumnya dua konfrensi tentang Sulawesi Selatan telah dilakukan di Melbourn, Australia dan Leiden, Belanda. Keduanya tentu saja merupakan wujud dari perhatian yang besar terhadap Sulawesi Selatan.

Salah satu makalah membahas naskah ataupun manuskrip lokal, yang merupakan sumber informasi mengenaik apa- apa yang terjadi di masa lalu. Dari catatan milik Arsip Nasional Republik Indonesia cabang Sulawesi Selatan, terdapat 4000 Naskah yang diabadikan pada media mikrofilm.

Mengapa dalam bentuk mikrofilm? Karena bukanlah hal mudah untuk mendapatkan naskah asli yang beberapa diantaranya tertulis di atas daun lontar. Tidak sedikit pemilik dari naskah – naskah tersebut yang enggan bahkan menolak dengan keras menunjukkan koleksi miliknya hanya karena naskah tersebut dianggap sebagai benda keramat ataupun jimat yang telah diwariskan secara turun temurun. Yang ironis, tidak sedikit yang meminta imbalan dalam jumlah besar sebelum mengijinkan tim pengumpul naskah mengambil foto naskah. Hanya sedikit diantaranya yang akhirnya menyerahkan koleksi mereka karena sadar bahwa koleksi tersebut lebih aman tersimpan di Arsip.

Sangat disayangkan, kondisi dari kebanyakan naskah yang tidak terawat dan akhirnya rusak dimakan rayap. Teks yang memudar tidak hanya menyulitkan. Selain itu banyak halaman yang lepas dari jilidan buku, bahkan banyak kata dan frase yang menghilang. Namun semua itu ternyata tak menyurutkan semangat para sejarahwan untuk mengeksplorasi lebih dalam.

Naskah – naskah yang di temukan ternyata ditulis dalam beragam bahasa. Dari Makassar, Bugis, Arab sampai Romawi. Salah satu bentuk naskah dalam bahasa arab dapat dilihat di salah satu sudut ruangan Museum Kota Makassar.

Dari hasil penerjemahan, tedapat sebuah catatan harian Kapitan Melayu. Jangan berharap akan mendapatkan masalah pribadi, karena catatan harian ini  ternyata berisi kejadian-kejadian sosial, seperti penjanjian publik, kelahiran, kematian, perkawinan, perang ataupun perjalanan – pejalanan orang – orang terkemuka. Di dalamnya sama sekali tidak terdapat komentar pribadi.

Berpindah ke makalah lain yang tidak kalah menarik tentu saja yang membahas mengenai Sejarah Konstruksi dan Benteng –Benteng Pertahanan Makassar. Alasannya sederhana, karena fakta mengenai hal ini baru – baru saja saya dapatkan. Terdapat sedikit perbedaan. Di buku ini hanya menyebutkan 8 benteng yang mengikuti garis pantai sepanjam 10 km. Padahal yang saya dapatkan pada saat mengunjngi museum disebutkan terdapat lebih dari 10 benteng.

Miris rasanya mengetahui bagaimana saat VOC yang mengepung Makassar di tahun 1667 sehingga membuat kota menjadi lumpuh. Walau tidak mampu merebutnya secara penuh. Sehingga dibuatlah perjanjian Bungaya yang membuat seluruh benteng – benteng tersebut hancur kecuali Benteng Ujung Pandang yang berubah namanya menjadi Fort Rotterdam dan Benteng Somba Opu.

Pembahasan mengenai benteng – benteng ini tidak hanya berkisar tentang sejarahnya saja. Struktur benteng pun dibahas sangat mendalam. Bahkan segi filosofis sebuah benteng pun tak lupa dibahas.

Kedua belas makalah lain pun tak kalah menarik untuk di simak. Pembahasan mengenai budaya orang Bugis, kronologi Raja – Raja Luwu yang merupakan memerintah kerajaan tertua di sulawesi selatan ataupun sampai pada kehidupan masyarakat di Taka Bonerate. Membaca setiap makalah ini membuat saya serasa berkunjung ke sebuah museum. Walau tak jarang saya sedikit dibuat sedikit kewalahan karena pembahasaan yang sangat mendetail. Namun tentu saja untuk orang – orang yang bergerak di bidang ini ataupun orang – orang yang ingin memahami beberapa budaya, sejarah dan kehidupan sosial di Sulawesi Selatan buku ini dapat menjadi referensi.

Comments
Add New Search RSS
andreas iswinarto  - 35 E-Book untuk Perubahan Sosial     |2008-10-16 03:06:47
Mohon maaf untuk yang satu ini.

Sobat pecinta buku, semoga 35 E-Book Gratis Untuk Perubahan Sosial ini bermanfaat. Bila berkenan mohon bantuan penyebarannya. Terima kasih

untuk link-link terkait silah kunjung
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/30-e-book-bebas-untuk-transformasi.html
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Komunitas Blogger Makassar Angingmammiri

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Monday, 15 September 2008 )
 
< Prev   Next >