| Stardust |
|
|
|
| Written by Ally | |||||
| Tuesday, 26 August 2008 | |||||
Directed by Matthew Vaughn
Tidak seperti film – film adaptasi lainnya, Stardust versi film
lebih dulu saya ketahui keberadaannya. Saat itu saya melihat review
yang diposting Echan
Sontak saya merasa kecolongan dan teringat bahwa buku karangan Neil
Gaiman itu masih tergolek lemah tak berdaya di salah satu sudut rak
buku di rumah. Starring: Charlie Cox,Claire Danes,Michelle Pfeiffer,Robert De Niro,Ricky Gervais Mark Strong,Peter O'Toole ![]() Film yang diadaptasi dari sebuah buku punya daya tarik tersendiri. Bahkan bagi saya film- film itu menjadi tontonan wajib. Apalagi kalau bukunya telah saya lahap lebih dulu. Rasanya sayang untuk dilewatkan. karena itulah satu satunya kesempatan melihat semua tokoh – tokoh yang tadinya hanya berada dalam buku dan benak, hidup dan bergerak. Walaupun sebenarnya lebih sering menjadi ajang perbandingan dan tak lupa disertai dengan komentar – komentar yang kebanyakan berisi kekecewaan hanya karena ada satu atau dua hal yang tidak sesuai dengan apa yang telah saya bayangkan sebelumnya. Semua hal tersebut kerap kali terjadi Tak butuh waktu lama untuk membaca setiap bab. Walau terkadang saya dibuat bingung oleh permainan kata di dalamnya. Dan tak lama berselang, DVD Stardust pun datang menghampiri. (Terima kasih untuk Ofie yang dah beli DVD dan Mr D yang jauh – jauh membawanya dari Bandung ke Makassar) Di scene-scene awal saya tak berharap akan menemukan sesuatu yang istimewa dari film ini. Karena pemeran Tristan maupun Yvaine tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Walau tetap bersinar di gelapnya malam, kalau diperhatikan baik – baik dari dekat, wajah Yvaine tidaklah secantik yang digambarkan di buku. Namun di scene-scene selanjutnya, terkejutlah saya ketika tahu bahwa film ini dikemas dengan sedikit bumbu komedi di dalamnya. Tidak seperti bukunya yang terlihat begitu serius, sering kali saya dibuat tergelak karenanya. Kejutan tambahan datang ketika Yvaine mengucapkan kata – kata ini “You could search the furthest reaches of universe and never find anything more beautiful. I know that love is unconditional. But I also know it can be unpredictable, unexpected, uncontrollable, unbearable and well, strangely easy to mistake for loathing. And what I am trying to say Tristan, is I think I love you. My heart I feel like my chest can barely contain it, like it doesn’t belong to me. It belongs to you. And if you wanted it, I wish for nothing in exchange. No gifts, no goods, no demonstration of devotion. Nothing but knowing you love me, too. Just you heart in exchange for mine.” Tak hanya hati saya yang meleleh, bahkan tanpa terasa pipi saya basah karena lelehan air mata Kejutan demi kejutan pun datang bergantian. Bahkan bisa saya katakan bahwa kisah Tristan dan Yvaine dibuat sedikit lebih rumit dan nyaris membuat saya berkata The Movie Is Better. Mungkin karena saya tak pernah menyangka akan disuguhkan sesuatu yang sangat berbeda dengan apa yang telah saya bayangkan. Dan mungkin ini juga saat yang tepat untuk berhenti melakukan perbandingan. Karena sesempurna apapun filmnya, sudah pasti selalu ada celah kecil untuk di cela. ^_^V Dari Original Soundtrack, kehadiran Take That - Rule The World juga menjadi penutup yang manis. 3, 5 deh |
|||||
| Last Updated ( Monday, 15 September 2008 ) | |||||
| Next > |
|---|




