20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 PDF Print E-mail
Written by Ally   
Monday, 11 August 2008

 20_cerpen_indonesia_terbaik_2008.jpg

20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 

Anugerah Sastra Pena Kencana

Penulis: Agus Noor, Antoni, AS Laksana, Azhari, F.Dewi Ria Utari, Eka Kurniawan, Etik Juwita, Gunawan Maryanto, Gus tf Sakai, Hasan Al Banna, ida Ahdiah, Komang Ira Puspita, Lan Fang, M Iksaka Banu, Naomi Srikandi, Nukila Amal, Puthut EA, Ratih Kumala, Seno Gumira Ajidarma, Triyanto Triwikromo

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Februari 2008

Tebal: 206 hlm

 

Setelah melahap 100 Puisi Terbaik Indonesia, kini giliran 20 Cerpen Terbaik Indonesia. Sama seperti kumpulan puisi, cerpen – cerpen yang telah diterbitkan di harian ibu kota ini dipilih oleh para juri handal dalam Anugerah Sastra Pena Kencana. Tidak lain untuk memberikan apresisasi lebih kepada para penulis. Mengingat penghargaan yang mereka dapatkan selama ini tidak memadai. Melihat kondisi seperti itu, Dewan Direksi  PT Kharisma Pena Kencana yang berada di balik Anugerah ini mengharapkan bisa mengubah keadaan tersebut dan  berkeinginan  menaikkan martabat para sastrawan

 Mengapa hanya 20?

Tentunya banyak pertimbangan dari para juri.  Lagi pula tak terbayang jika harus mengikuti jumlah puisi yang jumlahnya hingga 100. Bukan hanya akan membuat mereka merasa  pusing dibuatnya, namun kita,  terutama saya yang masih belajar memahami sastra, pastinya akan dibuat lebih bingung untuk memilih mana cerpen yang terbaik. Yah, di halaman terakhir buku ini setiap pembaca, melalui jalur sms, di berikan kesempatan untuk memilih cerpen mana yang paling pantas meraih gelar TERBAIK. Hal ini sontak membuat saya teringat dengan sistem yang diberlakukan oleh beberapa kontes yang sampai sekarang masih diselenggarakan di beberapa stasiun TV. Hmmm, apakah tidak masalah jika suatu karya sastra terbaik dipilih dengan cara seperti ini? Sekali lagi mereka tentu punya alasan kuat untuk itu yang sayangnya tak diungkap.

Membaca sampul belakang adalah ritual yang saya lakukan sebelum membuka halaman pertama. Untung tak ada resensi singkat yang biasanya hanya menggangu asyiknya membaca isi buku. Yang ada hanya deretan nama para penulis. Ada satu dua nama yang tidak asing bagi saya. Pertama,  Puthut EA,  yang salah satu novelnya telah saya baca. Yang kedua, Komang Ira Puspitaningsih, kalau tidak salah puisi – puisinya juga masuk dalam buku 100 Puisi Terbaik Indonesia. tak heran jika cerpen merekalah yang pertama kali saya baca.

Saat membukanya, saya banyak berharap kedua cerpen mereka tidak membuat saya kecewa. Keduanya dimulai dengan cerita yang mudah untuk dicerna sehingga muda saya melangkah dari paragraf satu ke paragraf lain.Sayangnya sampai kedua cerpen itu selesai yang ada hanyalah senyuman kecut. Keduanya menimbulkan banyak pertanyaan bahkan sebelum mengenal tokoh – tokoh di dalamnya dengan baik,  mengerti pesan yang tersirat atau makna yang tersembunyi, saya sudah sampai di akhir cerita.

Ada apa dengan cerpen – cerpen ini? Rasanya tentu tidak menyenangkan jika harus membaca cerpen seperti itu terus menerus. Mengingat masih ada 18 cerita yang belum saya selesaikan. Jangan – jangan semuanya akan berakhir sama dengan kedua cerita tersebut.

Pertanyaan saya akhirnya terjawab ketika membaca pengantar dari Pak Budi Darma. Penjelasan yang tertulis mengenaik cerpen memberikan pencerahan baru. Bahkan tulisan beliau membuat saya akhirnya mengubah mindset tentang cerpen.

Pertama bahwa cerpen memang hanya berisi cerita singkat. Namanya juga Cerpen, cerita pendek. Kalau sampai harus mengerti seluk beluk kehidupan para tokoh dan menunggu  semua masalah terselesaikan tentunya namanya menjadi cerpan, cerita  panjang yang nantinya dijadikan cerita bersambung jika dimuat di koran.

Kedua, bukan hanya saya yang merasa tidak puas. Mereka sebagai penulis juga ternyata tak pernah puas dengan cerita yang demikian. Namun apa daya, gerak mereka dibatasi oleh aturan yang diberlakukan koran. Sehingga hanya boleh menulis hingga beberapa ribu karakter saja. Cerita yang mungkin seperti saya inginkan akhirnya dipenggal –penggal. Jadi saya harus maklum jika semua cerpen berakhir dengan hal – hal yang menggantung dan yang sering kali saya beri gelar “aneh”

Setelah “mengganti kacamata: akhirnya dengan mudah saya melompat ke satu cerpen ke cerpen lainnya dan tanpa sadar akhirnya sampai ke halaman terakhir. Semua cerpen bercerita banyak hal. Permasalahan yang mereka berikan angkat pun beragam. Tak ketinggalan juga dengan setting yang berbeda.

Yang hebatnya, dari semua keanehan cerita, ada satu yang mampu mmbuat saya meneteskan air mata.

Sayang, dari 20 puluh cerpen itu  masih saja ada beberapa cerpen yang masih tetap saja susah ditangkap maknanya.

Nampaknya masih ada yang kurang dengan kacamata yang saya gunakan. Saya masih harus banyak belajar. Sehingga kedua cepern tersebut dan mungkin ribuan  yang ada di luar sana  bisa dengan mudah saya lahap seperti buku – buku terjemahan favorit saya.

Comments
Add New Search
inho sastro   |2008-08-28 01:22:36
GOOD............
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Komunitas Blogger Makassar Angingmammiri

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Friday, 15 August 2008 )
 
< Prev   Next >