| Makkunrai |
|
|
|
| Written by Ally | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Thursday, 24 July 2008 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Penulis: Lily Yulianti Farid Penerbit: Nala Cipta Litera Cetakan: I, Maret 2008
Tebal: 152 hlm
Cerita yang berkisah tentang perempuan tak
pernah ada habisnya. Dari yang ringan seperti yang tertulis dalam sebuah
legenda, dongeng, cerpen, novel sampai yang berat sekalipun, biasanya berupa
artikel – artikel serius yang dimuat di beberapa harian ibukota. Untuk yang
terakhir bahasanya kadang membuat dahi saya berketur dibuatnya. walau tak
jarang akhirnya membuat saya miris mengetahui fakta yang menimpa beberapa
perempuan di luar Makkunrai dan 10 kisah perempuan lainnya. Kata-kata yang tertera di sampul depan membuat saya bertanya-tanya. Apakah cerita di dalamnya masuk kategori ringan atau sebaliknya cerita-cerita tersebut masuk kategori yang membuat saya kembali mengerutkan dahi. Ketika mulai membaca lembaran pertama dari cerpen yang berjudul API, sontak saya mencium bau yang tak asing lagi. Bau yang sama ketika saya membaca cerpen yang selalu ada di beberapa harian setiap hari minggu. Bau yang mengingatkan pada satu kata, sastra, yang sampai sekarang terasa sukar untuk menjabarkannya. Sempat terpikir untuk membiarkannya tergeletak di salah satu sudut rak buku. Namun rasa penasaran saya jauh lebih besar. Lagi pula beberapa cerpen – cerpen yang pekat dengan sastra di beberapa harian toh bisa saya selesaikan tanpa harus menyisakan rasa bingung di akhir paragraf. Tak butuh waktu lama untuk melahap kesebelas cerita pendek ini. Beberapa cerita dengan mudah saya cerna dengan baik. Nyaris tanpa keluhan. Tak sulit untuk mengenali karakter setiap tokoh di dalamnya. Beberapa dari mereka terikat oleh satu benang merah. Watak dan peringai yang sangat kuat. Mereka seakan tak mengenal air mata yang biasanya menjadi cara bagi perempuan kebanyakan untuk menumpahkan segala rasa. Lihat saja Jennifer di cerpen Api, Kayla di cerpen Dapur ataupun sosok perempuan tak bernama di Makkunrai. Mereka seakan tak ingin bertekuk lutut pada semua hal yang terjadi. Bahkan tak segan mereka melawan arus. Sebenarnya bukan hal yang aneh. Karena di kehidupannya nyata dengan mudah saya menemukan sosok mereka. Sosok perempuan – perempuan lain tak kalah menarik. Tak seperti Jennifer ataupun Kayla, Marraya di Kelas 1-9 dan seorang anak perempuan di Keluarga Pengkhayal akhirnya toh takluk dengan keadaan. Marraya adalah perempuan yang cerdas yang awalnya bimbang namun akhirnya menutup telinga terhadap teriakan yang bersumber dari suara hatinya. Ia memutuskan mengikuti pola yang dibuat oleh beberapa orang yang menggunakan uang sebagai senjata untuk menyelesaikan semua problema hidup. Beda Marraya, beda pula anak perempuan di Keluarga Pengkhayal. Carut marut perekonomian keluarga tak hanya mematahkan semangat, namun juga menyeretnya ke dunia lain. Dunia yang tak lagi mengenal kata penderitaan. Dunia yang membiarkannya dengan bebas merubah nasib. Selesai membaca cerita ini, rasa iba yang awalnya saya rasakan tiba –tiba berubah menjadi rasa kesal. Perempuan yang lemah memang tak pernah masuk dalam list hal – hal yang saya sukai. Terlepas dari watak mereka, saya juga sempat tersenyum karena kalimat – kalimat yang terucap dari mulut para perempuan itu nyaris menggelitik. Walau akhirnya harus menyimpan kembali semua senyum tersebut ketika sampai di ujung cerita. Bukan hanya karena ceritanya namun lebih dikarenakan rasa ketidakpuasan. Itulah juga yang menjadi salah satu alasan mengapa saya tak pernah sungguh-sungguh menyukai cerpen. Banyak dari cerita yang terlalu cepat berakhir. Bahkan ketika satu masalah belum terselesaikan. Atau mungkin itu sudah menjadi karakteristik sebuah cerpen? Yang juga mengharuskan saya untuk memasukan dalam catatan sehingga tak perlu mengeluh ketika mendapatkan hal yang sama di buku berikutnya. Dari beberapa halaman terakhir, ternyata beberapa cerpen ini telah dimuat di beberapa harian. Bau yang saya cium dari awal memang tak salah. Berbicara tentang sampul depan, saya menyukai perpaduan warnanya. Memang pas untuk menggambarkan isi buku. Bahkan tak perlu menjadi sejenius Einstein untuk mengerti pesan yang tersirat. Setidaknya saya dapatkan setelah membaca semua isi buku ini. Sayangnya di sampul belakang, semua tersita oleh banyak endorsement. Sehingga tak lagi ada tempat tersisa untuk resensi. Semua cerita dan beberapa lembar tambahan sungguh membuat saya merasa kenyang dan sampai akhirnya terdapat satu kata yang saya pikir mampu mengikat semua perasaaan perempuan di buku ini menjadi satu. Getir adalah kata yang saya pilih
Komunitas Blogger Makassar Angingmammiri
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Last Updated ( Thursday, 24 July 2008 ) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|



Makkunrai


