| Tentang Tana Toraja |
|
|
|
| Written by biSoT | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Monday, 03 December 2007 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Apa yang terlintas dalam pikiran kita saat mendengar kata Tana Toraja? Tongkonan, Tau-tau, nasi merah, tedong bonga, dst. Yup... daftarnya masih bisa ditambah lagi. Sedikit merangkum artikel dari Koran Kompas edisi Senin tanggal 22 Januari 2007, saya berharap mudah-mudahan dapat menambah wawasan dan daftar objek yang bisa kita ingat saat mendengar kata Tana Toraja. Jika ingin mudahnya (tanpa bermaksud menyederhanakan), maka ritus atau upacara adat orang Toraja dapat kita bagi menjadi 2 mainstream, yaitu Rambu Tuka' dan Rambu Solo'. Rambu Tuka' adalah ritus yang terkait dengan upacara sekitar kehidupan, dalam kelompok ini antara lain upacara kelahiran, perkawinan, pesta panen, pesta sukuran/suka cita dst. Ritus ini dilakukan pada saat matahari terbit hingga tengah hari (aluk rampe mata-allo). Ritus ini berorientasi kearah timur dan biasanya dilaksanakan di sebelah timur Tongkonan (rumah adat Toraja).
Pic Courtesy: Apetite Journey Ritus Rambu Solo' atau upacara terkait kematian ini rasanya lebih populer. Saya pernah mendengar adanya kisah tentang upacara penguburan yang konon kabarnya dapat membuat jenazah berjalan layaknya orang yang masih hidup. FYI, Acara Rambu Solo' yang spektakuler bisa berlangsung hingga berbulan-bulan dan pastinya juga memotong kerbau dan babi hingga banyak sekali, namun jarang sekali acara seperti ini ada, yah mungkin setahun sekali... mungkin!, hanya jika ada upacara Rambu Solo' dari keturunan bangsawan atau orang terpandang di Toraja yang tentunya mampu secara finansial untuk menggelar acara sedemikian rupa. Sedangkan Acara Rambu Tuka' kurang populer karena konon pernah sempat dilarang gereja karena dinilai sebagai pemujaan terhadap dewa-dewa. Upacara Rambu Solo' menjadi penting karena dalam perspektif Masyarakat Adat, kesempurnaan upacara kematian akan menentukan posisi arwah, apakah sebagai bombo (arwah gentayangan), to-membali puang (arwah yg mencapai tingkat dewa), atau deata (menjadi dewa pelindung). Dalam konteks ini, upacara kematian menjadi sebuah "kewajiban", maka dengan cara apapun orang Toraja hampir pasti akan mengadakan upacara tersebut, karena dengan begitulah mereka mengabdi kepada orang tua serta menjaga dan melestarikan budaya/tradisi. Tentu saja ritus-ritus dan upacara adat itu bukan hanya ritus budaya dan tradisi, lebih dari itu, juga mengandung nilai-nilai religius dalam sistem kepercayaan orang Toraja yang menurut sejarah telah hidup sejak abad ke-9. Kita tidak membahas ritus tersebut dari aspek ini lho. Kembali ke upacara Rambu Solo'. IY Panggalo (Dosen Pasca sarjana Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja) mencontohkan upacara yang digelar Komisaris Jenderal Insmerda Lebang, salah satu penggagas acara "Toraya Mamali" pada Oktober 2006 lalu, saat mengupacarakan mendiang ayahnya, Kolonel (Pol) Ernst Lebang dengan upacara yang relatif sederhana, acara tersebut kabarnya hanya memotong 3 ekor kerbau dan menyerahkan uang (yang seharusnya dapat membeli kerbau lebih banyak lagi) untuk disumbangkan guna pembangunan desa. Ini merupakan sebuah bukti akan adanya transformasi budaya, upacara kematian nantinya mungkin tidak lagi identik dengan memotong banyak kerbau dan babi. Mungkin lebih kepada sumbangsih dan bakti kepada masyarakat sekitar. Struktur sosial masyarakat adat Toraja mengenal pembedaan ketentuan potong kerbau, misalnya 6, 8 dan 12 ekor, rapasan sapu randanan (yang digelar bangsawan tinggi) bahkan hingga 24 ekor. Namun seiring perkembangan ekonomi, strata sosial tidak lagi beralaskan sendi-sendi tradisional seperti keturunan atau kedudukan, melainkan berdasarkan pendidikan dan kemapanan ekonomi. Sudah banyak orang Toraja yang berasal dari strata sosial adat masuk dalam kelas rakyat kebanyakan namun hartawan, hingga mampu menggelar upacara kematian hingga berhari-hari dengan memotong kerbau yang banyak. Hal yang juga menjadi renungan Jonathan L Parapak, Ketua Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI). "Memang jumlah kerbau itu sangat penting, tetapi tidak perlu sampai banyak sekali. Di dalam upacara rapasan sapu randanan saja jumlah kerbau menurut adat hanya 24 ekor. Nah kalau sekarang jumlahnya semakin banyak, itu terjadi pergeseran". Mungkin yang dimaksud Pak Jonathan dengan pergeseran adalah bergesernya pesan-pesan moral dan makna-makna sosial dari pemotongan kerbau dan upacara kematian itu sendiri. Karena saya percaya, dibalik upacara kematian dan potong kerbau itu memiliki pesan yang mulia, jika yang dikedepankan hanya soal kompetisi banyaknya kerbau yang dipotong tentu akan sangat memperihatinkan, dan tentunya pemborosan bukanlah sebuah pesan yang ingin disampaikan dalam upacara Rambu Solo'. Reff: Artikel Tanah Air, Kompas, Senin 22 Januari 2007 hal. 40. Untuk lebih lanjut coba baca artikel ini: Apetite Journey Pernah di post di sini
Komunitas Blogger Makassar Angingmammiri
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Last Updated ( Wednesday, 05 December 2007 ) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|



