profmustamar.com
CERITA NARSIS TENTANG MENULIS PDF Print E-mail
Written by m aan mansyur   
Sunday, 08 July 2007

Catatan ini ditulis beberapa tahun lalu, tetapi kamu belum baca kan?

CERITA NARSIS TENTANG MENULIS
M Aan Mansyur   

Cerita ini berawal di... MASA KECIL adalah masa terburuk dan terpuruk dalam hidup saya. Pada saat berumur 8 tahun, ayah saya pergi dari keluarga, entah ke mana. (Kalau ada yang menemukannya, tolong kembalikan!) Dan bermulalah sepi. Dalam sepi-biru paling sempurna itu, berjalanlah kaki-kaki kecil saya dari satu mimpi ke mimpi yang lain; mulai dari mencari ayah di kota-kota besar, menemukannya dan balas dendam dengan memenggal kepalanya, keinginan membahagiakan ibu sampai menjadi kaya raya dari kata-kata—menjadi penulis.

[1] Alangkah menyiksa sepi. Perang saya terhadap sepi berawal dari Majalah Bobo milik tetangga. Suatu hari, lewat paman saya yang kuliah di Makassar, saya menitip surat untuk dikirim ke Majalah Bobo. Setelah dimuat, banyak anak seusia saya yang mengirim surat ke alamat saya. (Seminggu sekali Pak Sekdes mengambil surat di kantor kecamatan yang jauhnya 5 jam jalan kaki dari rumah saya, lalu mengantarnya ke alamat yang dituju.) Akhirnya saya punya hobi baru; menulis surat. Sahabat pena saya banyak sekali, dari ujung barat sampai timur Indonesia. Hobi bersahabat pena itu tidak berhenti sampai SMU, bahkan bertambah gila. Setiap pulang dari sekolah, saya menjadi pendengar setia acara MPL (Musik Pelepas lelah) di RRI Pusat. (Kadang saya heran, kenapa radio saya lebih bisa menangkap siaran dari Jakarta daripada Makassar.)

Untuk menambah koleksi sahabat pena, saya mengirim kartu pos ke acara itu dan berdatanganlah sahabat pena baru itu. Dengan terus menerus berkirim surat, saya tentu saja dituntut untuk mencari-cari kalimat dan kata-kata baru yang tidak klise agar mereka tidak bosan membaca surat yang saya kirim. Saya tidak mau sepi yang sudah saya pecundangi dengan menulis surat-surat (dan catatan harian) kembali menguasai karena sahabat saya berhenti membalas surat. Saya juga tentu harus punya banyak informasi baru yang belum mereka ketahui untuk menjadi bahan pembicaraan saya di surat.

Untuk memenuhi tuntutan menemukan kalimat baru itu, saya (awalnya) terpaksa harus membaca banyak bacaan. Maka melompat-lompatlah mata saya dari satu halaman ke halaman lain. Dari Panji Masyarakat, Trubus dan koleksi buku Hamka milik kakek saya, buku-buku sejarah dan geografi di perpustakaan sekolah, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut 212, Fredy S. sampai cerita-cerita cabul Nick Carter yang saya pinjam (dan baca) diam-diam[2].

Untuk tuntutan materi baru, saya suka tidur bersama nenek saya yang sangat doyan bercerita. Mulai dari ‘nene’ pakande’[3] sampai cerita tentang ‘meong palo karellaé’ dan penggalan-penggalan cerita Lagaligo. Selain itu, sepi juga telah membuat saya menjadi seorang anak (dan kemudian remaja) yang sangat suka melamun sendiri dan mengarang-ngarang cerita di jendela rumah yang menghadap sebuah tempat pemakaman umum di samping rumah saya. 

Begitulah! Menulis adalah perang melawan sepi. Selain menulis surat kemudian saya jadi suka menulis cerita dan puisi. Cerita dan puisi yang sebenarnya lebih banyak berupa perasaan-perasaan hati yang malu saya ceritakan dengan jujur. Rahasia membutuhkan kata.[4] Tulisan-tulisan yang awalnya hanya memenuhi catatan harian saya akhirnya mulai sering saya perlihatkan ke pacar[5] atau ke teman-teman dekat saya. Lama-lama saya jadi pede menempelnya di mading sekolah. Guru Bahasa Indonesia menyarankan untuk mengirimnya ke Majalah. Awalnya semua tulisan saya ditolak, tetapi suatu hari tiba-tiba saya mendapatkan surat pemberitahuan bahwa salah satu cerpen saya akan dimuat di Majalah Anita. Setelah dimuat saya dikirimi honor sebesar Rp. 170.000,- (tahun 1996, uang sejumlah itu bisa dipakai mentraktir pacar dan teman makan bakso selama seminggu berturut-turut.) Alangkah senangnya saya!

Setelah peristiwa luar biasa itu, setiap menulis biodata atau memperkenalkan diri saya selalu mengatakan bahwa cita-cita saya ingin jadi penulis—bukan lagi ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, agama dan orang tua. Sekarang, setelah tidak lagi terlalu sering berkirim surat, saya sering berpikir bahwa secara tidak sadar membaca dan menulis suratlah (dan catatan harian) yang membuat saya bisa menulis. Dan kalau saya kehilangan ide untuk menulis, saya sering ingin kembali mengirim surat ke teman-teman lama saya.  Dan... BEBERAPA BELAS tahun lalu setelah mengenal TV, saya menonton sebuah film—judul dan pemainnya saya lupa—ber-genre drama yang menceritakan hidup seorang perempuan sundal. Akhir-akhir ini, setiap kali saya ditanya bagaimana saya bisa menjadi penulis, saya selalu mengingat kembali film itu. Saya selalu merasa memiliki kesamaan dengan pelacur itu. Awalnya gadis itu ‘melakukannya’ untuk menyenangkan diri sendiri lalu untuk menyenangkan orang-orang dekatnya dan terakhir untuk mencari uang. Begitu juga saya, awalnya menulis karena ingin menyenangkan hati sendiri lalu menyenangkan pacar, sahabat dan orang-orang sekitar, kemudian terakhir berharap tulisan bisa jadi duit.  Film itu kemudian berlanjut dan gadis cantik itu akhirnya menjadi pelacur paling terkenal di kotanya.

Dan di situlah letak perbedaannya, sebab sampai hari ini saya belum juga terkenal—bahkan masih malu-malu memanggil diri sebagai penulis. Semua orang bisa menulis. Termasuk kamu! SANGAT IRONIS, setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun di meja sekolah, setelah berjam-jam bahkan berhari-hari membaca tulisan orang lain, sebagian besar dari kita tetap menganggap bahwa menulis itu sebagai sebuah kegiatan yang sangat sulit. Kenapa?

Coba bandingkan dengan kegiatan seperti belajar naik sepeda atau menjalankan komputer. Kenapa? Kenapa menulis menjadi misteri? Apakah karena tidak punya bakat? Howard Gardner mengatakan itu bukan persoalan bakat sebab semua orang punya word smart[6] yang memungkinkan kita bisa jadi penulis.

Lalu masalahnya di mana? Bagi saya, ada beberapa miskonsepsi tentang menulis. Mari kita lihat salah satu di antaranya! I don’t like to write!  Sepintas tidak ada yang salah dengan pernyataan ini, bukan? Tetapi hampir semua orang yang mengatakan itu pada dasarnya ingin mengatakan: i don’t like to begin to write! Seorang yang berhadapan dengan kertas kosong[7] sama dengan seorang penyelam yang menghadapi air yang dingin. Tetapi orang yang berani melompat di air dingin itu segera akan menemukan sensasi baru—dan barangkali tidak ingin naik kembali.  Saya dan (barangkali) kamu pernah mengalami hal ini: ketika guru memberi tugas menulis atau mengarang, 1 sampai 10 menit awal kita akan stres—biasanya sambil menggigit ujung pulpen atau mengetuk-ngetukkannya di meja sambil mengerutkan (sekerut-kerutnya) dahi, bahkan tak jarang kita mengganti kertas sebelum menulis satu huruf karena basah oleh keringat. Coba ingat, bukankah hal itu cuma terjadi di menit-menit pertama? Entah kita sadar atau tidak, ternyata jarang sekali tugas itu dikumpulkan tepat pada saat guru mengatakan bahwa saatnya karangan dikumpul. Kita akan terus menulis, menulis dan menulis sampai hitungan mundur 3...2...1 bahkan kadang-kadang sampai mengejar-ngejar guru yang sudah meninggalkan kelas karena jengkel melihat kebandelan kita.

Jadi... Kenapa saya harus menulis? PERNAH TIDAK kamu bertanya seperti itu? Kalau tidak, cobalah sesekali bertanya. Kalau ya, apa jawabannya? Banyak orang yang pernah ditanya dan jawabannya beda-beda.  Di bawah ini ada beberapa jawaban yang sering orang pakai ketika ditanya kenapa harus menulis. (Diurut bukan berdasarkan besar persentasenya. Maaf, ini bukan polling!)·    Tulisan adalah alat transformasi pengetahuan yang paling efektif—sampai hari ini hal itu belum bisa disangkal. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Kalimat itu sangat klise. Kita semua pernah mendengarnya disebut-sebut guru kita sejak SD. Wajar juga. Tidak banyak guru yang bisa menulis—hanya bisa ceramah. (Dosen juga begitu!) Pesan saya: Mahasiswa jangan ikut-ikutan seperti itu!·    Tulisan bisa jadi saksi. Pernah dengar atau baca berita tentang sebuah kasus bunuh diri seorang anak SMP karena pernah diperkosa—berkali-kali? Awalnya tak ada yang tahu apa yang menyebabkan si korban menjadi begitu bodoh mengakhiri hidupnya sendiri. Tetapi teka-teki itu kemudian dijawab oleh diari Si Korban sendiri yang mengatakan bahwa dia bunuh diri karena tidak bisa membawa malu (jangan baca: kemaluan[8]) pernah diperkosa oleh gurunya sendiri. ·   

Menulis itu terapi yang menyembuhkan. Sebuah penelitian pernah dilakukan terhadap dua kelompok orang yang mengalami masalah kejiwaan. Kelompok pertama selama 1 bulan diperintahkan untuk menulis apa saja yang mereka pikirkan. Sementara terhadap kelompok kedua tidak dilakukan perlakuan yang sama. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok pertama lebih cepat sembuh daripada kelompok kedua. Pada bagian awal buku Teras Terlarang[9] karya Fatima Mernissi, dikatakan bahwa menulis bisa menghilangkan guratan-guratan di muka. Bikin awet muda![10]·   

Supaya bisa terkenal. Untuk alasan satu ini, terlalu banyak contoh yang bisa kita sebutkan.·   

Masih banyak hal lain yang belum ditulis. Saya selalu merasa ingin membaca sebuah cerita tetapi belum ditulis oleh orang lain. Kenapa bukan saya saja yang tulis?·   

Mau dapat duit. J.K. Rowling karena Harry Potter-nya sekarang masuk jajaran orang terkaya dunia. Di E...ko Ngegosip pernah dibahas kenapa Dewi Lestari berhenti dari RSD. Jawabannya, karena royalti Supernova sudah bisa menghidupinya—bahkan sekiranya suaminya bukan Marcell.·   

Untuk membuat wanita pingsan. Itu kata Robin Williams dalam film Dead Poet Society.·   

Karena tidak punya uang lebih untuk pergi keliling dunia. Pernah baca novel-novel karangan Karl May? Kamu juga bisa keliling dunia melalui cerita yang kamu tulis.·   

Tidak puas dengan dunia yang sedang dihadapi. Dengan menulis, saya bisa membuat dunia yang saya inginkan, sebuah dunia yang lain.·   

Daripada melakukan hal lain yang tidak-tidak atau daripada tidak melakukan apa-apa.·   

Jawaban kamu apa? Cobalah buat daftar ini menjadi semakin panjang! Cerita ini tidak boleh berakhir di sini… SUDAH DIKISAHKAN cerita tentang saya dan menulis. Cerita yang lebih banyak memuja-muji diri sendiri, sangat narsis. Kamu boleh percaya boleh juga tidak. Sebab bisa jadi cerita ini fiktif belaka, semua kesamaan tokoh dan peristiwa dalam cerita ini hanya kebetulan belaka. (Tetapi memang begitulah. Sebab semua orang punya pengalaman dan caranya sendiri untuk menjadi penulis.) Selanjutnya biarkan semua itu hanya tinggal cerita dan lupakanlah—kalau perlu. Kalau mau juga bisa menulis bukan hanya membaca dan mendengar apa yang orang lakukan yang kamu perlukan.

Saya ingin memberikan rahasia menjadi penulis. Hanya ada tiga kunci utama untuk menjadi penulis; menulis, menulis dan menulis! Selamat menulis! 

Kafe Baca Biblioholic, 22 September 2004  Catatan: kita bisa berbagi pengalaman menulis, kirimkan email Anda ke This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
--------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Masa kecil saya (utamanya mengenai ayah dan ibu)kelak  banyak menjadi inspirasi dan tema dalam menulis puisi dan prosa. Siapa bilang masa lalu tidak bisa diubah? Saya telah melakukannya dalam tulisan-tulisan saya.

[2] Pengalaman masa kecil tentang membaca ini secara tidak sadar membuat saya menjadi seorang biblioholic (orang yang kecanduan membaca, gila baca) sehingga sejak menjadi mahasiswa saya sering menghabiskan uang 1 juta/bulan hanya untuk beli buku. Sekarang kegemaran itu ingin saya bagi ke orang lain dengan bergelut di dunia perbukuan;  bersama teman-teman mendirikan taman baca dan penerbit, dan bersama pacar membuat cafe baca dan rental buku (namanya Biblioholic) dan (Insya Allah) toko buku.

[3] Cerita tentang seorang nenek yang suka makan hati manusia. Cerita ini pernah saya tulis ulang dengan tambahan di sana-sini dan mengirimnya ke sebuah lomba dengan judul Cangkudidi dan Cangkudada. Alhamdullillah, dewan juri Lomba Tingkat Nasional itu memilih saya menjadi Juara I.

[4] Sebuah kalimat yang saya pinjam dari puisi Subagio Sastrowardoyo berjudul Nada Awal. Kalimat ini kemudian dijadikan judul buku Harry Aveling tentang Puisi Indonesia 1966-1998, Secrets Need Words—sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Rahasia Membutuhkan Kata.

[5] Tentang pacar waktu SMU itu, satu hal yang selalu saya cerita, surat. Hampir semua jalinan asmara antara dia dan saya hanya dilakukan lewat surat meskipun rumah kami saling berdekatan. Kami jarang duduk berdua-duaan, kalau toh itu terjadi yang kami bicarakan pastilah tugas-tugas sekolah. Dua tahun lalu, seusai lebaran, saya ke rumahnya dan dia memperlihatkan sebuah kardus mie instan dibungkus kertas merah berisi penuh surat-surat saya.

[6] Untuk lebih jelasnya, masalah word smart ini bisa dibaca dalam buku Andai Buku itu Sepotong Pizza karya Hernowo.

[7] Mengenai kertas kosong, Sidney Seldon pernah mengatakan, A blank piece of paper is God’s way of telling us how hard it to be God. (Sehelai kertas kosong adalah cara Tuhan mengatakan kepada kita bagaimana susahnya menjadi Tuhan.)

[8] soal malu dan kemaluan, ada pepatah yang berbunyi: Malu bertanya sesat di jalan. Banyak bertanya memalukan. Besar kemaluan susah berjalan. He..he..he.. jadi kalau ada yang tidak jelas bertanyalah. Jangan malu-malu!

[9] Buku yang sama diterbitkan ulang dengan judul Perempuan-Perempuan Haremku.

[10] Mengenai alasan ini, barangkali memang benar. Pada usia 24 tahun, dokter pernah memvonis saya akan lumpuh di usia 25 tahun karena disfungsi jantung. Tetapi semangat hidup (karena saya tidak mau mati sebelum minimal 2 buku diterbitkan) membuat saya di usia sekarang—Alhamdulillah—tidak mengalami kelumpuhan. Dan saya kelihatan seperti masih berusia 17 tahun, bukan?

Comments
Add New Search RSS
leeyha  - Jadi terinspirasi tuk nulis     |2007-07-30 12:33:00
tulisan ini bagus, membuat aku (pribadi) jadi terinspirasi tuk bisa nulis juga, n ternyata kalo mau punya perbendaharaan kata yang banyak, harus banyak membaca. Kagum jg sama K'Aan, bisa punya banyak sahabat pena sejak kecil...Smangat Terus ya Kak tuk buat karya2 yang akan selalu hangat di setiap zaman (maksudnya yg bakal dikenang sepanjang masa he...3x..)
nisya     |2007-08-08 13:05:56
hi, salam kenal ;D



aku juga sering nulis.. tapi ga bisa menceritakan, paling bisa menulis sesuatu yng tidak jelas.. kadang tidak sesuai dengan keadaan sekarang.



menulis yng baik itu gmana ya
MUHAMMAD FITRA   |2007-08-10 12:49:29
Kami atas nama Dewan pengurus Cabang Kontak Budaya KomunikasiIndonesia Kotamadya Pare-Pare (DPC KOBUKI KOT PARE-PARE) sesuai dengan Saran Ulama Muda yang Moderat Dan pemimpin Muda yang sangat bersahaja Prof.DR.Nanang Hariadi SE.MSC. Gus Har" sudah seharusnya sebagai kader dan anggota KOBUKI PARE-PARE turut serta mendukung dan menyukseskan Pilkada Sulsel (8 Agustus 2007) Oleh karena itu kami atas Nama ketua atau Kanselir DPC KOBUKI PARE-PARE mendukung dang mencalonkan HM AMIN SYAM untuk menjadi Gubernur Sulsel 2007-2012 sekaligus menghimbau kepada segenap keluarga besar Kobuki Sulsel yang berkisar 300 Ribu masa untuk turut serta mendukung pernyataan kami .

akhir mari kita bersatu dalam ridho Alloh SWT. Amien Hidup Gus Har hidup ketua Umum KOBUKI hidup Ajaraham DPP KOBUKI PROF.DR.NANANG HARIADI SE.MSc.

Makasar 11 Agustus 2007

DEWAN PENGURUS CABANG

KONTAK BUDAYA KOMUNIKASI INDONESIA

KOTAMADYA PARE-PARE

(DPC KOBUKI KOTA PARE-PARE)
imma_de3   |2007-08-29 14:11:40
ada yang bilang menulis itu butuh"sence"of writing...but dengar kisah hidupx kang aan bisa membuka mata lebih terbuka..nulis adalah rutinitas,kebiasaan,pengalaman,inspirasi,motivator,...etc..so write what u have 2 write...CAYO!!
armand     |2007-10-07 11:25:59
He..he..curhatannya menarik juga, jadi semangat buat nulis artikel lagi...
fia   |2007-11-03 08:57:40
eits cerita yg menarik ;D

pesanku, semua yg dimulai dri keringat dan air mata pasti berujung dg senyuman.

percayalah" TUHAN TIDAK PERNAH TIDUR."
ahmad  - menulis.....menulisssss............   |2007-12-08 22:08:16
Teracuni pikiran ini oleh kata-katamu

terbuka tabir hati ini dengan ukiran penamu...

semoga.....semoga jejak tinta di jarimu menjadi inspirasi masa

masa ketika aku juga ingin menjadi seorang penulis...

menulis untuk dunia...menulis untuk cinta !

Thanks Kak Aan !
Retty  - kisah menarik     |2007-12-11 08:57:48
Tambahan kisah menarik tentang karir impian ini ada di wikimu http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=1926.

Berkisah tentang bagaimana JK Rowling juga berjuang dengan susah payah.



Salam kenal,

Retty
Purnama  - Jenius   |2007-12-12 11:06:31
Sy selalu menganggap kalau orang yang bisa menulis (dan melukis) itu jenius. Ada yang memperoleh kemampuan itu karena bakat, tetapi ada juga karena usaha, jadi bagi yang merasa gak berbakat, jangan ragu-ragu untuk mencoba. Awalnya emang sulit ya? Suuuuulit banget. Tapi bayangkan apa yang bisa diperoleh dengan menulis, kepuasan batin, belum lagi kalau tulisannya bisa dibaca orang dan mendapat tanggapan. Seperti Mas Aan ini Wuiiiih......
khrisna pabichara  - Sallang Nakku Sallang Teya Takkaluppa     |2008-04-24 05:05:10
Semoga kenangan itu tetap bisa ditarik-diulur sesuka hati. Lama nian, meski rasanya baru kemarin. Setelah sebulan saya terus mencoba mencari, baru sekarang bisa bersua. Banyak salah dan dosa di masa lalu. Smoga bisa termaafkan.



Kenangan bersama bung aan, merangsang gairah saya menulis. Alhamdulillah, MQS Publishing menerbitkan buku motivasi pertama saya: 12 Rahasia Pembelajar Cemerlang.



Gimana kabarnya Biblioholic? Apa kabar mansyur rahim?



bogor, 23/04/08

dari yang pernah tidur dan makan bareng

khrisna pabichara daeng marewa
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Komunitas Blogger Makassar Angingmammiri

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Thursday, 09 August 2007 )
 
< Prev   Next >