Umma Azura, nama yang asing bagi saya. Namun perempuan
jebolan Teknik Sipil UnHas ini sungguh membuat saya sedikit iri. Semua kumpulan
cerita yang telah ditulisnya sejak lama akhirnya dikumpul dan dijadikan satu
menjadi sebuah buku. Berawal dari kegemarannya menulis cerpen yang awalnya
hanya mengisi salah satu rubrik di salah satu media sampai akhirnya kesempatan
untuk menerbitkan itu datang. Tak tanggung-tanggung buku ini di cetak sebanyak 2000 eksemplar.
Orange begitu kata yang dipilih untuk mewakili ke 26
cerpennya ini. Awalnya saya menduga Orange menjadi salah satu cerita pendek
yang ada di dalam buku ini. Begitu melihat daftar isi ternyata tak satupun
judul yang tertera dengan kata tersebut.Sehingga saya menarik kesimpulan bahwa kata Orange menjadi simbol yang
mewakili seluruh isi cerita buku ini.
Kebudayaan, Sejarah dan Kehidupan Sosial di
Sulawesi Selatan. Kata- kata tersebut dipilih untuk memberikan sedikit gambaran
tentang isi buku. Tidak main- main,
buku ini berisi beberapa makalah yang telah dibawakan dalam seminar
internasional di Arsip Nasional Indonesia cabang Sulawesi Selatan 12 tahun
silam tepatnya tanggal 16 dan 17 September. Yang sedikit mengherankan, ke 13
makalah tersebut tak satupun ditulis olehbudayawan ataupun ahli sejarah Indonesia.
Penulis: Agus Noor, Antoni, AS Laksana,
Azhari, F.Dewi Ria Utari, Eka Kurniawan, Etik Juwita, Gunawan Maryanto, Gus tf
Sakai, Hasan Al Banna, ida Ahdiah, Komang Ira Puspita, Lan Fang, M Iksaka Banu,
Naomi Srikandi, Nukila Amal, Puthut EA, Ratih Kumala, Seno Gumira Ajidarma,
Triyanto Triwikromo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Februari 2008
Tebal: 206 hlm
Setelah melahap 100 Puisi Terbaik Indonesia, kini giliran 20 Cerpen Terbaik Indonesia. Sama
seperti kumpulan puisi, cerpen – cerpen yang telah diterbitkan di harian ibu kota ini dipilih oleh
para juri handal dalam Anugerah Sastra Pena Kencana. Tidak lain untuk
memberikan apresisasi lebih kepada para penulis. Mengingat penghargaan yang mereka
dapatkan selama ini tidak memadai. Melihat kondisi seperti itu, Dewan
DireksiPT Kharisma Pena Kencana yang
berada di balik Anugerah ini mengharapkan bisa mengubah keadaan tersebut danberkeinginanmenaikkan martabat para sastrawan
Cerita yang berkisah tentang perempuan tak
pernah ada habisnya. Dari yang ringan seperti yang tertulis dalam sebuah
legenda, dongeng, cerpen, novel sampai yang berat sekalipun, biasanya berupa
artikel – artikel serius yang dimuat di beberapa harian ibukota. Untuk yang
terakhir bahasanya kadang membuat dahi saya berketur dibuatnya. walau tak
jarang akhirnya membuat saya miris mengetahui fakta yang menimpa beberapa
perempuan di luar sana
Aku Hendak Pilih Rumah, judul buku yang
juga merupakan judul salah satu puisi yang tertulis di dalamnya,
dikemas menjadi sebuah perjalanan singkat menelusuri setiap sudut di
sebuah rumah. Di mulai dari taman depan sampai taman belakang,
melalui beberapa pintu berlainan.