Tentang (Makassar) Cubicle yang membesarkanku
abd_samad
Ditulis : abd.samad
e-mail : dekaitzer@yahoo.com
Menara Mulia, Jakarta , 31072007 ; 14:55 WIB
Tak mudah menghapus jejak kehidupan kita, apalagi ada kenangan yang tertoreh pada memori kita baik manis dan pahit.
Hingga tadi (ketika) makan siang, seorang teman kerja bertanya , “kok bisa kuliah di makassar ?” .
Teman kerja bilang juga ” Mungkin kamu salah mencantumkan nama kampus yang diminati ” , aku lantas menjawab ” tidak , aku tidak salah pilih “.
Makassar, salah satu cubicle yang telah memberi ruang untuk belajar, melihat dan menerima …. semua pelajaran kehidupan dan bersama amalannya.
” Cubicle ” , adalah istilah yang aku sering saat ini , yang berarti kotak atau tempat yang memisahkan kita secara fisik atau lingkungan , dan bisa diartikan lebih luas yakini tempat yang membatasi ruang kehidupan bisa jadi psikologis atau geographis (versi abd.samad) . Tapi, kita tak usah membahas tentang definisnya lebih lanjut karena saya pun bukan ahli bahasa.
Pendek cerita, 4 tahun lebih di terpa di Universitas Hasanuddin, “proses transfer ilmu” tentu proses yang harus dilewati , karena toh saya ke makassar untuk cari ilmu, itulah tujuan awalnya. Dari kampus ini banyak cerita bukan hanya ketika di bangku kuliah, tapi yang justu mewarnai aku adalah lingkungan diluar kuliah …tentang makassar, UNHAS, dan cubicle - cubicle kecil yang memberi kenangan psikologis luar biasa …
Banyak cerita yang dirangkum dalam diari kehidupan, tak bisa dipaparkan di sini satu persatu …
Hingga kemarin , aku bertemu sobat dari makassar yang sekarang berada di jakarta , ketika bertemu aku rasakan pelukan yang hangat , sehangat silahturahmi yang sangat mahal karena sudah lama tak berjumpa , kebetulan sobat ke Jakarta dalam rangka bisnis yang ia ingin kembangkan di makassar, aku mengutip ucapannya yang sangat dalam ” kalau semua ke Jakarta, siapa yang membesarkan makassar ” , aku tertunduk setelah mendengarkan ucapannya. Sebuah visi besar yang jarang keluar dari andrenalin anak muda dan di ucapkan pada waktu sadar …
Jakarta dan bekasi lebih mendominasi waktu hidupku, aku punya tautan yang sulit dilepaskan … 18 tahun lamanya, sebelum ke makassar .
Sambil mengawang dan penasaran , apa kontribusi kepada kota yang pernah membesarkan diri kita …
tentang cubicle ini …
Sebuah kota yang tidak kehabisan orang-orang cerdas yang memiliki karakter …
Disini juga banyak teman-teman yang tak pernah lelah memberikan goresan2an kebaikan …
dan tentu juga keluargaku yang tercinta …. yang masih mengharapkan kunjungan2ku ke kota ini …
Mudah2an makassar menjadi kota besar yang bisa setara dengan kota-kota besar di negara maju …
Sebuah optimisme yang harus di tanamkan di tengah carut marutnya bangsa ini …
Kota yang didalamnya banyak memilki energi berpikir, bahkan stylish petarung (bukan mass desktruktif)
saya menunggu sinerginye semua energi tersebut …
sedikit pesan yang agak tendensius , majulah tanpa Jakarta dan Indonesia … karena keduanya belum menunjukkan sebagai trendsetter yang baik.
you’ll see no sense to imitate them.
please interpert this message intelligently … hehehhe
of course it doesn’t mean, we try to seperate from Our Republic.
dari berbagi tulisan yang ada hikmahnya dan informasi nantiya membuat kita bisa menjadi pembuat kebijakan yang baik dalam kehidupan , minimal untuk diri sendiri ..
agak aneh memang tulisan ini bagi banyak orang, bagi saya belum tentu.
-s@m-
- Idle Engineer -
dalam rindu menyapa pagi di tanah angin mamiri
Posted in Carita-caritana |
No Comments »
