Dilema Pete-pete dan Busway
Paccarita
Pertama-tama, buat pengunjung luar Makassar, istilah “pete-pete” itu merupakan sebutan untuk angkutan umum sejenis mikrolet di kota Makassar dan Sulawesi Selatan.
Berdasarkan berita di koran beberapa hari yang lalu, pemerintah Makassar berencana untuk mengoperasikan angkutan kota jenis bus yang menyerupai konsep busway di Jakarta. Dengan harapan, katanya akan mengatasi kemacetan, di mana jumlah penumpang dalam satu bis setara dengan angkutan 2 (dua) pete-pete.
Efeknya, pete-pete akan dikurangi jumlahnya, karena menurut pemerintah bede’, kota Makassar sekarang malah kelebihan 1.627 unit petepete. Sementara pete-pete yang sekarang memiliki izin trayek sebanyak 4.550 unit, jauh dari kebutuhan yang sebenarnya hanya sebanyak 2.923 unit. Kasihan yang mau dihapuskan itu, nanti harus pindah pekerjaan lagi. Mending kalau dikasih solusi sama pemerintah. Kalau nanti hanya sekadar diberhentikan dan tidak ada tindak lanjutnya.. Duh, prihatin.
Hari Senin (19/12) kemarin, kota Makassar dihebohkan dengan mogoknya para supir pete-pete dalam rangka demonstrasi melawan rencana pemerintah tentang busway ini.
Seperti kita tahu bersama, tingkah supir pete-pete tidak diragukan lagi gayanya kalau di jalan raya. Baku ropol, berhenti tiba-tiba, serempet tipis-tipis, malah paling parah itu melarikan diri kalau ada yang dia tabrak. Membiarkan si korban tergeletak tak berdaya.
Tapi ada tong juga bae’nya tawwa supir pete-pete. Kalo ada korban tabrak lari di pinggir jalan, biasa itu pete-pete yang ditahan untuk jadi ambulans mendadak. Dan umumnya para supir pete-pete mau ji untuk bantu bawa si korban ke rumah sakit terdekat.
Jadi..? Apa mi?
Nah, teman-teman blogger, kira-kira apa pendapat kalian tentang busway dan pete-pete ini. Setuju nda kalo busway dijalankan di kota Makassar?
Posted in Carita-caritana |

December 21st, 2006 at 5:26 pm
di lain pihak sy dukung rencana pengadaan busway,tp hati kecil sy yg laen (di manami itu letaknya hati kecilku?) merasa kasihan sama sopir pete2 yg akan kehilangan pekerjaan.
Tapi memang sy sering jengkel juga sama sopir pete2, (sebagian) kayak gak tau peraturan…., berhenti mendadak, kadang berhentinya di tengah jalan, kayak mereka saja yg punya jalanan
December 21st, 2006 at 5:56 pm
Kalo saya toh, setujuka dengan Pemerintah. Walaupun Pete2 sudah jadi semacam ciri khas Makassar tapi ka ta’lewa banyakmi bela jadinya macetmiseng dimana2.
December 22nd, 2006 at 10:05 am
se baru tau klo makassar tnyata bisa macet juga.. (ketinggalan info ma sede..
)
December 22nd, 2006 at 10:55 am
klo saya to, klo ada busway dimanami mo ditaro itu jalannya na sempitnya itu jalan, truss bagaimanami kodong nasibnya sopir pt2 klo kehilangan penumpang……
trus itu to klo dikurangi pt2 bole2 saja asalkan pemerintah adaji solusi untuk sopir yg kehilangan pekerjaan………
December 22nd, 2006 at 2:05 pm
SAY NO TO BUS-WAY!!!
saya sangat tidak setuju dengan adanya bus way, faktanya jalan2 (infra struktur jalan) di Makassar tidak pernah mengalami perubahan yg berarti sehingga kalo nambah lagi bus way macet justru akan lebih gila lagi.
jika pemkot ingin mengurangi pete2 saya setuju karena memang sudah terlalu banyak sehingga tidak effisien dan justru bikin makassar macet. kenapa sih gak bus/PPD/Damri yg di revitalisasi???
dengan menambah bus-way pemkot justru sedang kearah yg sebaliknya, makassar akan lebih macet dari sekarang.
jangan samakan jakarta dgn makassar, jakarta selain jalannya besar2 dan lebar, pertumbuhan jalan sangat drastis dalam 5 tahun saja sudah berapa banyak jalan baru dibuat dan dilebarkan.
say no to bus way!!!
December 22nd, 2006 at 4:48 pm
mamie lebih setuju kalo jalanan aja yang fisiknya diperbaiki.. liat aja kondisinya apalagi waktu hujan…
December 22nd, 2006 at 6:09 pm
Busway…
Pete-pete…
Makassar macet itu sebenarnya bukan karena pete-pete yang banyak. Tapi karena angkutan pribadi (mobil pribadi, truk pribadi, dan bus pribadi) yang sudah sangat banyak.
ada ya?
Logikanya, satu mobil pribadi paling-paling sekali jalan cuma mengangkut 1 orang (supir saja). Yah, paling banyak 3 orang.
Satu truk pribadi, satu kali jalan paling angkut 1 orang (supir saja). Paling banyak juga 3 orang (sama 2 buruh truk). Bus pribadi…
Kalau pete-pete, satu kali jalan jarang sekali cuma 1 orang (supir saja). Paling tidak 4 orang diangkut.
Dengan ukuran yang sama dengan mobil pribadi, tapi jumlah rata-rata yang diangkut yang lebih banyak, jelas pete-pete (seharusnya dan sebenarnya) lebih bisa mengurangi kemacetan.
Harusnya pemerintah makassar lebih berani mengurangi, memfilter, atau mungkin menghentikan penjualan mobil-mobil pribadi.
Mungkin kalau menghentikan penjualan mobil susah. Apalagi mengurangi jumlah mobil pribadi yang sudah ada.
Tapi mungkin kalau pemerintah lebih bisa membuat ketegasan tentang penjualan mobil, dan hak pembelian mobil, peningkatan jumlah kendaraan pribadi tidak begitu tinggi.
Misalnya, syarat pengajuan permohonan pembelian mobil deperbanyak. Misalnya, gaji minimal untuk beli mobil pribadi : 100 juta per bulan. Artinya kalau gaji belum sampai 100 juta per bulan, dilarang untuk beli mobil.
Atau mungkin, dilarang kredit mobil. Harus cash!! Artinya, ndak dibolehin beli mobil pakai kredit, harus cash.
Kalau sudah seperti itu, dijamin jumlah mobil di kota ndak tumbuh secepat kilat.
Kalau sudah seperti itu juga, orang-orang pasti pakai pete-pete semua.
Kalau sudah begitu, pete-pete cepat penuh.
Kalau sudah cepat penuh, pete-pete cepat jalannya, ndak nunggu lama.
Kalau sudah cepat jalannya, sudah ndak nunggu lama, pasti mi ndak macet lagi.
Kalau sudah ndak macet lagi, pasti mi nyaman jalan-jalan pakai pete-pete.
Kalau sudah nyaman, pasti mi orang pikir “enak tong naik pete-pete, di’?! Tida macet ji tawwa. Ka tida ada mi mobil satu orang (mobil pribadi). Nai pete-pete mi semua orang.”
Hhhh.. jadi kembali ke bus way.
Kalau sudah nyaman pakai pete-pete, ndak perlu mi ada bus way.
Kalau sudah ndak perlu ada bus way, pete-pete ndak perlu dikurangi.
Kalau ndak perlu mi dikurangi pete-pete, supir pete-pete masih tetap bisa kerja.
Kalau tetap bisa kerja si supir pete-pete, ndak ada mi demo-demo supir lagi.
Kalau ndak ada mi demo-demo supir pete-pete, lancar mi lagi jalanan. Ka naik pete-pete ki lagi orang-orang.
HIDUP SUPIR PETE-PETE!!!
*maaf buat yang punya mobil pribadi.
#ngelirik….
December 23rd, 2006 at 3:40 am
pemerintah seharusnya memikirkan kembali rencana pengoperasian busway di kota makassar, sebabnya ini bukan bagus tidaknya pengoperasian busway akan tetapi seharusnya pemerintah perlu mengambil langkah - langkah yang lebih bijaksana lagi dan seharusnya pemerintah duduk bersama dengan masyarakat dan pihak terkait didalamnya untuk menyelesaikan permasalahan yang sebenarnya. dasar pemberlakuan busway itu apa, jangan sampai kemacetan yang sering terjadi sampai pemerintah memutuskan pemberlakuan busway, saya kira ada alternatif untuk itu, jangan konsep ini terkesan dipaksakan tapi melihat apa dampak atau masalh yang timbul setelah itu. ok bos, berpikir cerdas dong!!
December 25th, 2006 at 11:53 am
kemacetan lalu lintas emang jadi permasalahan dimana2 yah.
kalo menurut pendapatku, Busway belum bisa dijadikan alternatif transportasi di Mks karena spt yg Bisot blg kondisi jalanan di Mks belum mendukung. Jalannya kan sempit2. Kalo dipaksakan justru akan tambah macet.
Kalo utk pengurangan angkot saya setuju. Pemerintah jangan terlalu mudah keluarkan izin trayek.
memang sih ke depannya untuk sebuah kota besar harus lebih mengembangkan sistem transportasi massal, tp disesuaikanlah sama kondisi kota masing2.
December 27th, 2006 at 11:12 pm
intinya ces, setuju adanya busway, tapi inga’ tongki kodong sama sopir yg kehilangan pekerjaan, ada semacam kompensasilah,jangan sampai maunya menyelesaikan masalah kemacetan, eh tambai sede masalah pengangguran
January 4th, 2007 at 12:35 am
ntahlah..dilema memang..pete-pete seperti benci tapi rindu…butuh cepat api kadang tunggu penumpang yang masih diujung lorong. belum lagi berhentinya..atau kalau mau nyambung biasa 1 ji mau dinaiki yang berhenti 3 atau 4 pete-pete.huh..biar cuma mau menyebrang dikirami mau naik..semrawut mi jadinya….kalo busway kan sebaliknya..berhenti hanya di halte dan paling lama 1 menit kalo ada penumpang yang naik turun..itu yang penting..waktu yang terbuang kalo tunggu orang di pete-pete..semoga para sopir itu bisa sabar..sa’baraki daeng..salama’ ki’…